“Mengapa dari Penyengat, yang luas pulaunya tak sampai lima kilometer persegi itu, bisa melahirkan sastrawan dan intelektual besar? ( Batampos, 27/12/2015). Gugatan, ratapan dan tantangan Rida K Liamsi tersebut tentu menarik dan menggelitik kita semua. Betapa tidak! Dewasa ini kita belum menemukan sosok, karya dan hasil intelektual yang membanggakan kita sebagai kawasan yang pernah menjadi kiblat peradaban dunia. Padahal daerah pernah lahir dan tumbuhnya sastrawan, cendekiawan dan seniman besar, Raja Ali Haji dengan Guridam-nya, Hasan Yunus, Sutarji Bachrum, BM Syamsudin-untuk menyebut beberapa dintaranya.

Kini , dengan berbagai kenyamanan, kelengkapan sarana prasarana, melimpahnya media informasi justru tidak melahirkan karya seni, sastra dan kerja budaya serta intelektualitas yang berkualitas. Yang terjadi adalah dimana kita terhannyut oleh gelombang arus informasi yang kemudian menjenuhkan kita semua. Distorsi informasi tak terhindari. Arus informasi, media dan kemajuan Iptek ternyata tidak memuat kita semakin produktif, melainkan semakin tersuruk di zona nyaman secara materi dan nafsu. Karya-karya intelektual, seni dan budaya tak lahir. Kalaupun ada ia hanya sekedar pelengkap media cetak, elektronik dan media social. Ia tidak lagi memberikan pencerahan budaya, kearifan nurani dan mengasah akal pikiran. Makanya, ia tidak lagi menjadi arus utama dalam diskursus peradaban.

Berbagai majalah sastra dan budaya yang pernah ada, seperti Horison saja sudah tidak kedengaran gaungnya. Para budayawan, sastrawan, intelektual pun sudah menghamba diri kepada pemilik modal dan kekuasaan politik. Arus perubahan tidak lagi berkiblat kepada karya budaya, seni dan intelektual, melainkan berpusat pada pemilik modal dan kekusaan politik. Perselingkuhan antara kaum berjouis dan elit politik sudah meluluh lantahnya berbagai sendi budaya dan dunia intelektual. Karya-karya budaya dan intelektual tidak dijadikan acuan para elit kekusaan dan pemilik modal untuk merancang program dan kegiatan perubahan bagi perbaikan peradaban. Karya-karya budaya dan intelektual hanya di jadikan asesoris almari dan isi lanci meja para pemilik kekuasaan dan duit.

Makanya tidak heran, kemudian para cendekiawan atau kaum intelektual kemudian berlomba-lomba menjadi” intelektual tukang “. Mereka menjadi suruhan partai politik, pemilik modal dan media massa untuk mengkomentari dan mengacak-acak logika kebenaran menjadi logika kepentingan. Hampir setiap hari media elektronik dan media cetak pemilik modal menyewan kaum intelektual, budayawan dan seniman untuk membela kepentingan kelompoknya. Mereka pun kemudian menggunakan berbagai dalil mulai dalil aqli, naqli sampai dalil perdukunan. Yang penting elit kekuasaan yang diperjuangkannya merasa senang, menang dan terkenal. Mereka tidak peduli apakah yang mereka dalilkan itu benar atau salah, melainkan sejaumana dalilnya itu diamani oleh pemodalnya.

Hal itulah barangkali yang membedakan zaman Kesultanan Riau Lingga sebagaimana didambakan oleh Rida K Liamsi untuk dihadirkan kembali di era Kepulauan Riau ini, dengan apa yang ada sekarang ini. Jika di era Kesulatan Riau Lingga-elit kekusaan dipegang oleh mereka yang memang memiliki kapasitas dan integritas budaya dan intelektual, kini para pucuk kekuasaan diisi oleh manusia karbitan. Mereka dengan berbicara, dan takdir yang disekenariokan bisa meloncat menjadi legislator, eksekutif dan pengusaha dadakan. Jika di era Kesultanan Riau Lingga pusat perubahan budaya dan peradaban dikendalikan oleh kaum pendidik, budawan dan para pemikir ( filosuf), kini perubahan dikendalikan elit politik dan pemilik modal.

Walhasil, berbagai karya, tradisi intelektual dan budaya yang demikian kondusif melahirkan sastrawan, seniman, budayawan dan pemikir seperti Raja Ali Haji, Raja Hamzah Yunus, Hasan Yunus, Sutardji Calzoum Bachri, dan lainnya kini tersumbat. Karya budaya dan intelektual tidak lagi menjadi acuan akan prestasi seseorang. Acuan keberhasilan seseorang bukan diukur seberapa banyak buku, karya dan hasil penelitian yang mereka hasilkan untuk kemajuan peradaban, melainkan dtentukan sejauhmana seseorang itu memiliki fasilitas mewah dan hidup di-alam gemerlapan lampu disko, pub dan panggung erotis.

Merestorasi Warisan
Membalikkan titik peradaban dan budaya sebagaimana diharapkan oleh Rida K. Liamsi bukanlah persoalan mudah untuk dilakukan. Karena kita memang berada dalam tikungan peradaban serba instan. Maka, tantangan terberat kini yang dihadapi oleh kita yang ada sekarang ini, bukannya menyaingi Raja Ali Haji dan lainnya, melainkan apakah kita mampu merestorasi ( menghidupkan ) kembali warisan, kasanah dan peninggalan sastra, budaya, seni dan karya intelektual yang terpendam dalam limbo sejarah kemelayuan Kepulauan Riau ini saja sudah luar biasa. Upaya menghidupkan kembali seperti yang dirintis oleh Walikota Batam dengan mengadakan kenduri Budaya Melayu setiap tahun, festival penyair, berbalas pantun oleh Wali Kota Tanjungpinang Era Suryatati A. Manan , dan festival Sungai Carang yang digagas oleh Rida Ka. Liamsi adalah bagian dari upaya menghidupkan kembali warisan yang terpendam tersebut.

Apa yang sudah dirintis tersebut mestinya disambut oleh Pemerintah Provinsi Kepri dengan meletakkan kerangka atau blue print pengembangan kebudayaan dan peradaban melayu. Dengan adanya kerangka dasar atau blue print tersebut, maka setiap Kabupaten/ Kota memiliki arah yang seiring untuk mengembangkan kebudayaan melayu sesuai dengan locus di masing-masing daerah. Seperti Lingga dengan khasanah cagar budaya dan sejarahnya, Tanjungpinang dengan warisan pantun dan intelektualitasnya, Batam dan karimun dengan teknologi kebahariannya. Natuna dan anambas dengan perdagangan lintas batas dan pariwisata baharinya.

Strategi berikutnya adalah mengintegrasikan blue print pengembangan kebudayaan melayu dengan program Tri Dharma Perguruan Tinggi di Kepri. Dengan melibatkan perbagai Perguruan Tinggi yang ada di Kepulauan Riau melalui berbagai kajian, penelitian dan pelatihan terhadap berbagai tradisi, symbol dan alam pikiran serta khasanah budaya, dan warisan intelektual yang ada, maka tentu akan terbangun kembali jalan untuk mengembangkan jalan budaya seperti dirindukan Rida K. Liamsi dan kita semuanya.

Perguruan tinggi kita selama ini belum menempatkan berbagai khasanah dan warisan intelektual Melayu sebagai topic atau isu kajian penelitian dan pengabdian masyarakatnya. Mereka terjebak oleh rutinitas perkuliahan dan pemenuhan tuntutan regulasi yang tak berkesudahan. Maka sudah saatnya, semua Pimpinan Perguruan Tinggi se Kepri berkumpul, kemudian menyepakati kerja budaya dan intelektual untuk merestorasi kembali khasanah budaya dan warisan intelektual Melayu dalam konteks kekinian.

Barangkali dari sinilah kita kemudian bisa membangun tradisi baru jalan budaya dan kerja intelektual baru yang tidak terjebak pada arus kekuasaan dan pemilik modal yang kapitalis dan pragmatis. Dengan membangun sinergisitas antara Perguruan Tinggi, budayawan, sastrawan dan pemerintah yang memiliki komitmen untuk membangun kembali kejayaan masa lalu kemelayuan di Kepulauan Riau inilah, bis a dilakukan. Ini adalah jalan pintas yang bias dikerjakan. Jalan panjang tentu kita harus terus menerus membangun pancang-pancang ( meminjam istilah) Rida. K Liamsi) kebudayaan Melayu dalam seluruh gerakan nafas dan pikiran kita sebagai masyarakat Melayu. Pancang-pancang yang ditancap haruslah didasari atas remomendasi hasil kajjian, penelitian dan pengabdian yang telah dilakukan oleh perguruan Tinggi kita yang ada. Sehingga pancang-pancang yang dipancangkan memiliki akar tuanggang yang kuat dan mengakar. Dalam artian memiliki nilai pengembangan dan nilai transformative menuju budaya melayu yang gemilang seperti kejayaan masa lalu.

Menebarkan Karya
Langkah berikutnya tentu menebarkan berbagai kajian, penelitian dan upaya restorasi tersebut dalam bentuk karya budaya, seni, intelektual dan karya inovatif dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA) sehinga ia menjadi kekuatan budaya/modal sosial bagi upaya membangun bargaining posisi dengan Negara lain. Dalam konteks ini, kerja dan dukungan penuh media massa baik elektronik dan cetak tak bias ditawarkan. Persoalannya selama ini, kenapa kita tidak mampu melahirkan kaderisasi di bidang seni, budaya dan intelektual karena kita memiliki media untuk mensosalisasikannya. Kini, Rida K Liamsi degan Batampos Groupnya, penulis berharap menjadi garda terdepan dalam menampung karya anak negeri ini untuk mengaktualisasikan kembali berbagai kasanah dan warisan intelektual di bumi Melayu ini.

Setidaknya harapan itu sudah tersedia melalui lembaran Batampos mingguan; “ rubrik Jembianya” , Rida K Liamsi hendaknya mengatakan kepada generasi kini bahwa lahan penyemaian karya anak negari sudah ku sediakan. Silakan saudara untuk menyemainya. Ya, ini salah satu media. Kedepan kita berharap ada kerjasama Batampos Group dengan pihak perguruan tinggi dalam menerbitkan Jurnal dan Majalah Kebudayaan Melayu. Hal ini penting, karena perguruan tinggi kekurangan biaya dalam hal penerbitan, namun melimpah ruah hasil kajian, penelitian dan pemikiran brilian. Jika kerjasama ini dapat terbangun, maka jalan untuk membangun tradisi dan upaya mengembangkan khasanah dan warisan budaya melayu menjadi kian cepat dan kuat.

Barangkali inilah langkah yang harus kita bangun, ketimbangkan kita meratapi dan menzikirkan ketidak hadiran budayawan, seniman dan pemikir di bumi melayu tercinta ini. Penulis berkeyakinan hal ini telah menjadi pandangan hidup bersama. Rida K liamsi sudah memulai pancangnya. Kini bagaimana kita menyambutkannya dengan mengisi, menghidup dan mewarnainya. Para akademikisi di Kepri tentu turut berdosa atas kenyataan sekarang ini. Maka tidak ada pilihan bagaimana kita memulainya, membangun sinergisitas dan saling membesarkan satu sama lain. Semoga!***

Umar-Natuna

Komentar Pembaca

komentar