Suatu realitas kehidupan bahwa manusia diciptkan oleh Allah SWT dengan berbagai macam etnis, suku, bangsa dan bahasa. Keragaman agama dan keyakinan memiliki sejarah panjang seiring perjalanan peradaban kehidupan manusia. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk terdapat didalamnya berbagai macam agama dikenal sebagai bangsa yang dapat hidup rukun dan berdampingan. Memiliki perbedaan keyakinan beragama bukan berarti menjadi penghambat hubungan interaksi sosial diantara manusia sebab manusia tidak dapat menjalani kehidupan secara eksklusif.

Sejak masa pendidikan dibangku sekolah dasar dahulu toleransi itu bermakna saling menghormati (mutual respect) antar sesama, maka toleransi beragama berarti saling menghormati antar sesama pemeluk agama. Toleransi beragama ini haruslah jelas batasannya sehingga tidak menjadi pengaburan aqidah atau keyakinan antar sesama pemeluk agama. Toleransi beragama yang dimaksud sifatnya hanya sebatas menjaga kerukunan antar umat beragama semisal memberi kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk melaksanakan ritual ibadah sesuai dengan keyakinannya, tidak sampai pada pengakuan akan kebenaran agama tersebut.

Toleransi di Dalam Islam
Dalam bahasa Arab toleransi biasa disebut dengan ”ikhtimal” atau juga ”tasamuh” yang artinya membiarkan sesuatu untuk dapat saling mengizinkan dan saling memudahkan. Secara historis jauh sebelum piagam Magna Charta hadir yang dicetus oleh Raja John Lackland di Inggris pada tahun 1215 yang memuat tentang hak azasi manusia. Justru Islam terlebih dahulu mencetuskan Piagam Madinah (Shahifatu Al-madinah) yang disusun oleh Rasulullah Muhammad SAW pada tahun 622 Masehi. Piagam Madinah adalah perjanjian formal antara antara Rasulullah SAW selaku kepala negara di Madinah dengan semua kabilah dan suku-suku yang ada di Yatsrib. Piagam Madinah juga sebagai konstitusi yang terdiri dari 47 pasal yang diantaranya menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum muslim, kaum Yahudi dan komunitas penyembah berhala di Madinah sehingga membuat mereka menjadi satu kesatuan sebagai warga negara yang heterogen di Madinah.

Kemudian secara i’tiqodi (keimanan) Islam telah menetapkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, sebagaimana firman Allah SWT : “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.”(QS.Al-Baqarah:256). Sebagian ulama menafsirkan ayat ini secara mujmal (umum) sebagaimana Imam Ibnu Katsir & Imam Ash-shabuni menafsirkan, Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam karena telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebathilan dan hidayah telah terbedakan dari kesesatan.(Kitab Tafsir Shafwatut tafsir).

Toleransi Islam ini tidak bermakna menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Imam Asy-Syaukani rahimahullahu didalam kitab tafsir Fath Al-Qadir berkata: Abdul ibnu Humaid, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah meminta kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi Wassallam, “Andai engkau menerima Tuhan-Tuhan kami, niscaya kami menyembah Tuhanmu.” Menjawab itu, Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan firman-Nya, surat Al-Kafirun, hingga ayat terakhir: “… Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109]:6).

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Ath-thabrani juga mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa orang Quraisy pernah melobi Rasulullah SAW sambil menawarkan tahta, harta dan wanita. Agar Rasul berhenti menyebutkan Tuhan-Tuhan mereka dengan keburukan. Mereka pun menawarkan diri untuk menyembah Tuhan Muhammad asal berikutnya Rasulullah SAW bergantian menyembah Tuhan mereka. Sebagai jawabannya, Allah Subhanahu Wa ta’ala menurunkan surat Al-Kafirun. (Kitab Tafsir Fath al-Qadir, Juz 5 hal 685). Penjelasan di atas menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi toleransi beragama antar agama-agama yang lain tanpa memaksakan kehendak untuk menerima ajaran Islam.

Antara Pluralitas dengan Pluralisme
Ada kekeliruan persepsi yang harus diluruskan antara pluralitas perbedaan keyakinan beragama dengan pluralisme. Secara faktual pluralitas kehidupan beragama itu adalah realitas kehidupan sehingga harus disikapi dengan saling menghormati dan menghargai keyakinan agama masing-masing, sedangkan pluralisme agama adalah suatu faham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Pluralisme agama berpendapat bahwa semua agama adalah benar, baik dan sama-sama akan masuk surganya Allah. Beragam agama hanyalah beda teknis karena sama-sama menuju kebenaran. Ide pluralisme menjadi bagian isu central perjuangan kaum liberal. Dalam konferensi parlemen agama-agama di Chicago tahun 1893, diserukan bahwa tembok pemisah antara berbagai agama didunia sudah runtuh. Konferensi itu akhirnya menyerukan persamaan antara Kon Fu Tsu, Budha, Islam, Kristen dan agama-agama lain. Mereka juga berkesimpulan bahwa berita yang disampaikan oleh Nabi-nabi itu sama saja. Max Muller (1823-1900) melalui bukunya, Vorlesunger uber religionswissenschaft mengemukakan pendapat tentang persamaan hakiki dari agama-agama. Menurutnya setiap agama adalah benar bahkan juga agama-agama suku. Gagasan penyamaan agama oleh sebagian kalangan kemudian dipopulerkan dengan istilah pluralisme agama yang dikembangkan sampai level operasional kehidupan sosial, seperti penghalalan perkawinan antar agama dsb.(Adian Husaini, Pluralisme Agama Haram, Pustaka Al-kautsar 2005, hal 34-35). Maka tak heran untuk menyikapi bahaya pluralisme agama khususnya bagi aqidah kaum muslimin Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam munasnya yang ke-7 pada tanggal 25-29 Juli 2005 di Jakarta telah menetapkan 11 fatwa. Di antara fatwa MUI tersebut adalah mengharamkan paham Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Disadari atau tidak kampanye ide pluralisme dalam rangka upaya dekonstruksi makna Islam sebenarnya yang merupakan bagian dari upaya dekonstruksi nilai-nilai kunci didalam Islam secara keseluruhan. Maka akan terdekonstruksi juga makna murtad, munafiq dan kafir. Bila hal ini telah terjadi maka akan sangat mudah untuk memutar balikkan aqidah umat Islam dan pada akhirnya akan meninggalkan ajaran Islam secara sistematis.

Penutup
Toleransi antar umat beragama telah diajarkan oleh Islam sejak kehadirannya dimuka bumi ini. Islam dapat hidup berdampingan dengan baik dan santun ketika berada ditengah-tengah mayoritas dirinya sendiri maupun berada ditengah-tengah minoritas umat yang lainnya. Sejarah telah mencatat bagaimana peradaban Islam yang panjang selama 12 abad memperlakukan orang-orang non muslim dengan penuh hormat dengan sebutan kafir dzimmi. Seorang kafir dzimmi akan dijaga dan dilindungi kehormatannya dan diberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agamanya tanpa ada paksaan sedikitpun. Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ”(HR.An-Nasa’i). Wallahu a’lam. ***

Tommy-Abdillah

Komentar Pembaca

komentar