batampos.co.id – Pendistribusian air bersih yang dikelola Unit Usaha Air Bersih (UUAB) Moro terus dikeluhkan konsumen. Di saat tiba musim kemarau, air kering tak dapat melayani kebutuhan konsumen. Dan musim hujan air bersih jadi keruh, jangankan air itu digunakan untuk diminum, untuk mandi dan cuci pakaian pun tak bisa digunakan konsumen.

Untuk mengatasi air bersih, di dalam waduk tidak tercemar lumpur adalah dengan membuat parit saluran air dan batu miring penahan tanah waduk penampungan air yang diperkirakan sepanjang 150 meter. Sebab, akibat tak ada penahan tanah maka ketika hujan turun longsoran tanah bukit meluap masuk waduk hingga air waduk itu keruh sekali.

Hal ini tak dibantah Kepala UUAB Moro R Rachmat Efendy, saat dimintai tanggapannya tentang keluhan konsumen air bersih tersebut. ”Memang benar saat musim hujan, air jadi terkontaminasi lumpur longsoran bukit di bibir kolam penampungan air bersih tersebut,’’ jelasnya Sabtu (6/1).

Menanggapi manfaat bangunan saringan air satu paket senilai Rp 3,8 miliar anggaran APBD tahun 2010 lalu, ia  menyebutkan saringan air itu digunakan, namun masalahnya pompa air dari waduk langsung ke saringan itu hanya mampu 10 liter per detik.

”Makanya konsumen mencapai 600 lebih ada yang tak kebagian air. Jadi harap bersabar dululah,’’ paparnya.

Sedangkan, pompa air yang langsung dari waduk ke bak 20 liter perdetik. Persoalannya jika air yang ditampung dalam bak penampungan disalurkan ke konsumen resikonya air campur lumpur. Jadi dua fungsi pompa air itu beda.

”Yang 10 liter perdetik langsung ke saringan air bersih tapi resikonya tak bisa melayani seluruh konsumen. Pompa 20 liter perdetik langsung ke bak dan disalurkan semua pelanggan bisa dapat air tapi risikonya air berlumpur,’’ kata Rachmat.

Untuk itulah, diusulkan pemasangan batu miring penahan tanah dan saluran pembuangan curah hujan dan usulan pompa air volume 30 liter perdetik bisa langsung air disedot dari waduk ke saringan untuk disalurkan pada konsumen. (pst)

Komentar Pembaca

komentar