KEPALA Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Kota Batam, Lukman Sungkar melakukan sidak ke pedagang ayam di Pasar Puja Bahari, Jodoh, kemarin (9/1) untuk menindaklanjuti tingginya harga daging sapi dan ayam di Batam.
KEPALA Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Kota Batam, Lukman Sungkar melakukan sidak ke pedagang ayam di Pasar Puja Bahari, Jodoh, kemarin (9/1) untuk menindaklanjuti tingginya harga daging sapi dan ayam di Batam.

batampos.co.id – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kota Batam melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar di Jodoh, Batam, Sabtu (9/1). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas terjadinya kenaikan harga yang signifikan untuk jenis komoditi daging sapi dan daging ayam di sejumlah daerah di Indonesia.

“Sidak hari ini kami lakukan untuk melihat apakah ada permainan harga untuk kedua pangan mengingat harganya sangat tinggi saat ini,” jelas Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Kota Batam, Lukman Sungkar.

Pasar Tos 3000 dan Pasar Puja Bahari menjadi sasaran sidak kali ini. Lukman menjelaskan, KPPU Kota Batam telah melakukan survei nasional dan mendapati sapi potong, terutama dari Lampung dan Jawa mengalami kenaikan harga di akhir 2015 dan di awal 2016, padahal selama dua tahun sebelumnya tidak ada kenaikan sama sekali. Sebelumnya harga daging sapi potong sekitar Rp 90 ribu per kilogram.

“Saat ini, daging sapi potong itu harganya per kilo Rp 120 ribu di dua pasar ini,” imbuhnya.

Begitu juga dengan daging ayam. Saat ini harganya mencapai Rp 30 ribu per kilo, mengalami kenaikan dimulai dari Natal kemarin.

Lukman berpandangan, seharusnya harga daging sapi dan ayam sangat erat kaitannya dengan arus distribusi. Jadi ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami penurunan, maka harga kedua bahan pangan itu otomatis turun.

Namun, salah satu pedagang ayam di Pasar Puja Bahari, Asiun mengatakan, harga ayam tak terpengaruh harga BBM. “Harganya dipengaruhi kelangkaan ayam,” katanya.

Jika bukan karena harga BBM turun, maka kelangkaan yang menyebabkan harga daging ayam dan sapi meroket patut menjadi pertanyaan. “Makanya kami mencoba menyelidiki itu, karena mungkin diduga ada permainan dari kartel mafia kebutuhan pokok. Namun, sampai saat ini kami belum mendapat indikasi ke sana,” jelas Lukman.

Setelah melakukan sidak, Lukman berkesimpulan harga masih bisa dikatakan stabil, namun tetap akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait harga kebutuhan barang pokok di pasar. “Kita sangat berharap, harga mahal ini bukan karena permainan kartel,” ujarnya.(leo)

Komentar Pembaca

komentar