batampos.co.id – Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan, Wijayanto Samirin mengatakan, lesunya ekonomi Tiongkok harus menjadi perhatian Indonesia. Sebab, Tiongkok adalah mitra dagang utama Indonesia.

“Imbas langsungnya adalah harga komoditas yang masih akan lemah,” ujarnya, Sabtu (9/1).

Sebagaimana diketahui, menurut data bulan Desember, indeks manufaktur Tiongkok turun di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 48,9 poin. Indeks tersebut menyusut 0,7 poin menjadi 48,2 poin. Akibatnya kondisi yang memburuk ini membuat pasar saham dan mata uang yuan terdepresiasi.

Menurut Wijayanto, sebagai salah satu konsumen komoditas terbesar dunia, lesunya ekonomi Tiongkok bakal berimbas pada turunnya permintaan komoditas pertambangan maupun perkebunan sehingga menekan harga.

”Artinya, sektor pertambangan dan perkebunan belum bisa diandalkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi 2016,” katanya.

Meski demikian, kata Wijayanto, Indonesia masih bisa mengandalkan sektor infrastruktur sebagai motor pertumbuhan ekonomi di 2016. Apalagi, pemerintah sudah menggenjot belanja modal sejak awal tahun. Dengan begitu, multiplier effect terhadap sektor perbankan, industri, maupun daya beli akan cukup tinggi.

”Sehingga, target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen rasanya masih bisa dicapai,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan pihaknya terus mewaspadai dampak yang terjadi akibat davaluasi yuan. Agus menjelaskan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk mendevaluasi yuan 0,5 persen membuat pasar uang global bergejolak dan berimbas ke aliram modal di Indonesia.

”Itu devaluasi yang tajam karena terakhir kali yuan didevaluasi dengan sangat besar pada Agustus 2015 dan kali ini bisa kami sampaikan bahwa Indonesia harus bersyukur karena di tengah gejolak dunia, kita bisa atasi dan masih bisa bertahan,” ujarnya di Jakarta, Jumat (8/1).

Dia mengungkapkan bahwa langkah devaluasi yuan yang dilakukan Tiongkok membuat pasar modal negeri Tirai Bambu tersebut sempat dihantikan sementara (suspend) hingga dua kali selama pekan ini. Hal itu berdampak pada bergejolaknya aliran dana di dunia yang dikenal dengan periode risk-off, yakni  dana-dana yang ada di dunia akan lari mencari negara yang dianggap memiliki aset aman.

Di Indonesia, lanjutnya, tekanan tersebut berimbas pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beberapa hari lalu rupiah sempat melemah ke level Rp. 13.800 hingga Rp 13.900 per dolar AS.

Agus beranggapan bahwa devaluasi yuan kali ini merupakan awal mula, mengingat akan ada potensi dampak lain selanjutnya yang dialami Tiongkok.

”Tiongkok mungkin masih ada mix signal. Meski neraca perdagangan mereka tahun lalu surplus 600 miliar dolar AS, atau tertinggi dalam sejarah, namun Tiongkok berupaya mendorong pertumbuhan yang tengah melambat dengan meningkatkan ekspor agar lebih kompetitif.

Mantan menteri Keuangan tersebut juga berujar bahwa Tiongkok masih melihat yuan lebih kuat dibanding mata uang di Asia lainnya. ”Mereka (Tiongkok) merasa mata uangnya dibanding Korea dan Jepang masih terlalu kuat, ini yang kita mesti konsisten dan hati-hati,” lanjut dia. (owi/dee/jpgrup)

Komentar Pembaca

komentar