Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam mengangkut sampah dengan mobil Convektor Hidrolik  di Jalan Laksamana Bintan, Seipanas. Selasa (8/12) lalu.  Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos
Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam mengangkut sampah dengan mobil Convektor Hidrolik di Jalan Laksamana Bintan, Seipanas.
Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos.co.id – Penanganan sampah di Kota Batam masih menjadi polemik hingga saat ini, mulai dari penumpukan sampah yang tak terangkut hingga kondisi Tempat Pembuangan Akhirnya (TPA) yang semakin penuh dan diperkirakan hanya berfungsi hingga lima tahun ke depan.

Meski sudah tahu seperti itu, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batam belum memiliki rencana untuk memindahkan lokasi tempat pembuangan sampah akhir yang berada di Telagapunggur ke tempat yang baru.

“Masalah lahan baru masih kami bicarakan dengan BP Batam, sekarang kita masih fokus pada TPA Telagapunggur,” kata Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Batam, Suleman Nababan kepada koran Batam Pos, Sabtu kemarin.

Lahan TPA Telagapunggur yang memiliki luas 48 hektare ini setiap harinya menampung kurang lebih seribu ton sampah, baik yang berasal dari industri dan rumah tangga.

“Untuk pengelolaan sampah disana (TPA) kita masih panjang, DKP dan BP Batam masih bekerja sama terkait pengelolaan sampah dalam kurun waktu 50 tahun, jadi walaupun nanti pindah lokasi, pengelolaan sampah disana masih terus berlanjut,” jelas Suleman.

Pemko Batam berencana akan melengkapi sarana dan prasarana dalam penanganan sampah yang berada di Telagapunggur.

“Kita harapkan ada daur ulang sampah dan didukung dengan peralatan yang modern, agar pengelolaan sampah maksimal semua sudah diajukan, namun kita masih tunggu persetujuan dari DPRD dan Pemko Batam,” tuturnya.

Proses pengolahan kembali sampah ini nantinya diharapkan bisa memiliki nilai jual, sehingga bisa digunakan sebagai biaya tambahan operational. “Semua untuk keperluan operational mulai dari satgas, dan kebutuhan lainnya, kadang satgas lembur, nah hasil dari pengelolaan kembali sampah tadi kita manfaatkan kembali untuk memenuhi keperluan operational,” terang Suleman.

Sementara di wilayah Kecamatan Seibeduk, Beberapa hari sampah menumpuk di jalan depan ruko perumahan Gardan Ayu Permai. Sampah yang menumpuk tersebut kerap menganggu pengguna jalan lantaran bau busuk yang ditimbulkan.

Dedi Irawan, warga sekitar mengatakan sampah tersebut sudah sejak Jumat (8/1) menumpuk sementara Bin Countainer hanya satu yang tersedia.

“Karena satu tempat itu udah penuh, jadi orang-orang buang di bawah,” katanya, Minggu (10/1) pagi.

Di lokasi nampak sampah tersebut ada yang dibakar untuk menghindari penumpukkan yang terlalu banyak.

Pedagang ayam penyet yang enggan namanya disebut dan berjualan tak jauh dari lokasi berpendapat, bau yang ditimbulkan sampah tersebut berpengaruh pada keinginan pembeli membeli dagangannya.

“Jadi jijik nanti orang kalau mau makan, walau dari sini ke tempat sampah gak dekat-dekat kali,” ujarnya.

Begitu juga dengan di Seipanas, penumpukan sampah yang berada di depan Komplek Griya Mas, dan Simpang koin centre, Seipanas menumpuk.Sampah di simpang koin masih terlihat penumpukan hingga meluber ke badan jalan mengakibatkan bau yang sangat menyengat dan tidak sedap dipandang (cr17/cr13/cr14)

Komentar Pembaca

komentar