Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/11). Jero diduga melakukan menyelewengkan Dana Operational Menteri (DOM) untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga. Foto: Ricardo/JPNN.com
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/11). Foto: Ricardo/JPNN.com

batampos.co.id – Mantan Menteri ESDM Jero Wacik meminta majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menunda sidang atas perkaranya yang beragenda pemeriksaan terdakwa, Senin (11/1). Pasalnya, pris asal  Bali itu ingin menghadirkan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla sebagai saksi  meringankan atau a de charge.

Jero yang juga mantan menteri kebudayaan dan pariwisata itu mengatakan kepada majelis hakim bahwa dirinya belum mau menjalani pemeriksaan terdakwa sebelum semua saksi selesai diperiksa. Mantan politikus Partai Demokrat itu pun percaya bahwa JK -sapaan beken Jusuf Kalla- bakal hadir pada persidangan berikutnya, Kamis (14/1).

“Setelah konfirmasi langsung, beliau berkenan dan mengonfirmasi bersedia hadir,” kata Jero di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran.

Menanggapi keinginan Jero, Ketua Majelis Hakim Sumpeno lantas memintanya untuk berkoordinasi dengan protokoler istana wakil presiden. Sumpeno menegaskan, apabila JK absen dalam sidang berikutnya, maka sidang akan langsung dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa.

“Apabila pak wapres berhalangan hadir karena kegiatan apapun, maka sidang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Ini kesempatan pertama dan terakhir,” ujar Sumpeno

Sidang pun ditutup dan akan dibuka kembali pada 14 Januari mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi yang meringankan.

Seperti diketahui, Jero Wacik didakwa menyalahgunakan dana operasional menteri (DOM) sebesar Rp 10 miliar saat menjabat menbudpar.  Selain itu, politikus Partai Demokrat itu juga didakwa melakukan pemerasan untuk mendapatkan DOM tambahan di Kementerian ESDM sebesar Rp 200 juta per bulan.

Jaksa KPK juga mendakwa Jero telah menerima gratifikasi berupa uang sebesar Rp 350 juta dari mantan bos KADIN yang juga Komisaris PT Trinergi Mandiri Internasional, Herman Afifi Kusumo. Pemberian itu dalam bentuk biaya perayaan ulang tahun Jero di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.(put/jpg)

Komentar Pembaca

komentar