Foto peserta Kongres bersama Ketua Umum PII periode 2015 – 2015, Dr. Ir. Hermanto Dardak pada acara penutupan Kongres.
Foto peserta Kongres bersama Ketua Umum PII periode 2015 – 2018, Dr. Ir. Hermanto Dardak pada acara penutupan Kongres.

batampos-co.id – Bertempat di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta pada tanggal 11 – 12 Desember 2015 yanglalu, Persatuan Insinyur Indonesia ( PII ) menggelar perhelatan akbar bertajuk Seminar dan Kongress ke-XX yang dihadiri lebih dari 500 orang peserta dan peninjau yang berasal dari lebih 100 Cabang dan 20 Wilayah serta Badan Kejuruan. Dengan peserta terjauh dari Sumatera Utara dan dari Papua.

logo pii

Seminar dan Pra Kongres yang dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. M.  Jusuf Kalla. Seminar yang bertemakan “ Insinyur Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA ) : Penguatan Industri Manufaktur, Migas, Minerba dan Konstruksi “ menghadirkan pembicara dari 2 kementerian yakni Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (Dr. Said Didu, IPU) serta wakil dari Pengurus Pusat PII (Ir. Bobby Gafur Umar, IPU ).

Jusuf Kalla yang kerap disapa dengan panggilan JK ini, dalam sambutannya menekankan agar para teknolog dan insinyur harus terus menerus melakukan inovasi dan senantiasa mengupgrade pengetahuannya. Karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung begitu cepat. JK mengilustrasikan ilmu Information Technology berkembang dan tumbuh 100% setiap 1.5 tahun, Kedokteran setiap 3 tahun dan Teknologi serta Engineering umumnya setiap 5 tahun.

Mengenai MEA, JK dengan tegas mengatakan bahwa Insinyur Indonesia tidak perlu takut akan adanya MEA ini, justru negara-negara lain yang harus takut akan kita. Menurut JK, semua profesi itu termasuk Insinyur selalu akan bergerak dari Negara yang berpenghasilan rendah ke Negara yang berpenghasilan tinggi. Jadi tidak mungkin Insinyur katakanlah dari Singapura dan Malaysia masuk ke Indonesia. Justru JK khawatir Insinyur Indonesia yang makin banyak bekerja di luar sehingga terjadi “brain drain” yang sangat merugikan kita.

Pemerintah sekarang, kata JK lagi, berniat meningkatkan daya kompetisi dengan cara menurunkan bunga bank, menurunkan ongkos logistik, memangkas birokrasi yang berbelit-belit, serta membangun banyak pembangkit listrik dengan program 35.000 MW nya. Untuk itu, lanjut JK, Pemerintah bersama Dunia usaha serta para Insinyur harus terus bekerja sama mewujudkannya.

”Keberanian mengambil resiko untuk berinovasi harus diambil,”papar JK.
Beberapa contoh menarik dikemukakannya seperti pengalihan minyak tanah ke gas 3 kg, pembangunan pembangkit listrik hidro di daerah konflik Poso, pembangunan airport di berbagai daerah, jalan tol ke bandara, panser anoa yang berhasil menekan biaya hingga setengah dari panser buatan Perancis.

”Inovasi itu butuh keberanian dan kemauan,”lanjutnya. Selain itu juga perlu ada standarisasi
produk, seperti fabrikasi pintu untuk program 1 juta rumah, fabrikasi jembatan, fabrikasi
transmisi. Itu semua tantangan bagi para Insinyur untuk terus berinovasi dan menghasilkan produk berstandard,”kata M. Jusuf Kalla.

Berselang satu hari kemudian, yaitu pada tanggal 12 Desember, Kongres PII ke-XX kembali
kehadiran tamu istimewa, kali ini adalah Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.
Presiden RI ke-7 yang akrab dipanggil Jokowi ini membuka secara resmi Kongres PII tersebut.

Sebelum memberikan kata sambutannya, Presiden Jokowi dianugerahi Anggota Kehormatan PII oleh Ketua Umum PII, Ir. Bobby Gafur Umar, IPU dengan pengalungan medali kehormatan.

” Presiden Jokowi adalah penerima Medali Anggota Kehormatan ke-3, setelah sebelumnya PII pernah menganugerahi medali yang sama kepada PM Inggris, Margareth Teacher dan PM Jerman Barat, Helmut Kohl yang ke-2 nya adalah juga Insinyur,” papar Bobby Gafur Umar pada kata sambutannya.

Jokowi membuka sambutannya dengan menekankan bahwa kita tidak perlu takut akan kehadiran Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA ), justru beberapa kepala Negara dan Perdana Menteri dari Negara-negara lain yang khawatir dan sudah bisik-bisik bahwa mereka khawatir akan kebanjiran produk dan jasa dari Indonesia.

Presiden melanjutkan bahwa visi kita di masa depan adalah visi kompetisi. Tidak akan ada lagi proteksi dan subsidi dari Pemerintah karena hal itu memanjakan dan menurunkan daya saing bangsa.

”Saya sudah hafal, orang kita itu kalau sudah dipepet baru jalan. Kita harus kalkulasi secara
detail kemampuan di dalam guna dipakai untuk menyerang maupun bertahan, mana yang perlu perbaikan guna menyambut era kompetisi ini, untuk itu kita focus ke pembangunan infrastruktur,” lanjut Presiden.

Tahun anggaran 2015 ini, dana yang disalurkan untuk pembangunan berbagai infrastruktur tersebut mencapai Rp 313 Trilyun. Suatu jumlah yang sangat besar. Jalan tol sedang digesa
penyelesaiannya di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Jokowi, sejak kita Merdeka sampai saat ini baru terbangun jalan tol sepanjang 800 km. Sedangkan target dalam masa pemerintahannya akan dikebut mencapai 1000 km. Sejumlah pembangunan jalan tol yang sempat tersendat seprti di tol Trans Jawa, yaitu ruas Ngawi – Kertosono dan Batang – Semarang ditenderkan ulang.

”Ambil, tenderkan lagi. Ngapain kita nunggu-nunggu,” tegas Jokowi. Sementara itu tol Trans
Sumatra dalam 1 tahun ini sudah 3 kali dicek pembangunannya secara langsung ke lapangan. Sebab jika tidak dicek, proyek tersebut tak akan jalan.

Tol Trans Kalimantan yaitu ruas Samarinda – Balikpapan dan Tol Trans Sulawesi yaitu ruas Manado – Bitung juga terus dipantau progessnya secara intensif.
”Kalau enggak digitukan, enggak akan rampung-rampung,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi menambahkan, dia sudah berpesan kepada menteri yang terkait dengan proyek jalan tol agar juga lebih banyak turun ke lapangan ketimbang menghabiskan waktu untuk rapat.
”Kalau saya mengecek 3 bulan sekali, menteri pasti setiap bulan, otomatis bawahannya lebih sering lagi. Saya sampaikan ke menteri-menteri maksimal 3 kali rapat sebelum memutuskan sesuatu, saya enggak mau rapat bertele-tele,” lanjutnya.

Begitu pun dengan program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Sejak Merdeka sampai saat ini kapasitas listrik terpasang hanya 53.000 MW. Pemerintah harus optimis bisa menyelesaikan ini dalam kurun waktu 5 tahun. “ Test casenya akhir tahun ini, kalau bisa mencapai 10.000 MW, pasti dapat target 35.000 MW itu” papar Jokowi.

Apabila ada menteri yang mengatakan ini tidak mungkin terjadi maka seharusnya menterinya bekerja dengan penuh optimisme supaya bisa tereralisasi.
” Belum praktek, belum dihitung sudah bilang tidak mungkin, tidak boleh seperti itu. Bottle
necknya ada pada masalah perizinan yang mencapai 69 izin. Beberapa investor sampai butuh 6 tahun untuk mengurus izin. Sekarang sudah saya potong tinggal 22 izin, dan akan saya potong lagi agar kita lebih fleksibel dan tidak terbelenggu oleh aturan yang kita buat sendiri “ lanjutnya.

Pada kata akhirnya, Presiden meminta PII bisa memberikan sumbang saran kepada Pemerintah guna meningkatkan upaya-upaya efisiensi.

Perwakilan PII Batam ( kika : Kristianto Andi & Irfan Ismail ) bersama Wakil Ketua Umum terpilih Ir. Heru Dewanto, M. Eng ( tengah ).
Perwakilan PII Batam ( kika : Kristianto Andi & Irfan Ismail ) bersama Wakil Ketua Umum terpilih Ir. Heru Dewanto, M. Eng ( tengah ).

Kongres XX PII ini juga diisi dengan laporan pertanggungjawaban dari Pengurus PII Periode 2012- 2015 yang langsung diterima dengan baik oleh para peserta Kongres. Bukti keberhasilan pengurus yang merupakan mahakarya adalah disahkannya UU No. 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran serta makin eksisnya PII di berbagai wilayah dan cabang di Indonesia.

Peserta Kongres memilih Ir. Heru Dewanto, IPM sebagai Wakil Ketua Umum PII yang dalam masa 3 tahun ke depan, bertugas mendampingi Ketua Umum PII, Prof. Ir. Hermanto Dardak, IPU yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Periode 2015-2018.

Tradisi Pemilihan Wakil Ketua Umum yang secara otomatis akan menjadi Ketua Umum pada periode berikutnya ini menjadikan PII sebagai organisasi profesi yang melakukan transisi kepemimpinannya secara damai dan tidak mengenal konflik. BRAVO PII.

Untuk mengetahui kegiatan Persatuan Insinyur indonesia (PII) Batam dan Kepulauan Riau silahkan hubungi : Ir Kus Dwiatmoko, IPM (0812-7004-244), Ir.Irfan Ismail (0852-72005079) atau via email email di [email protected] atau [email protected](agn/adv)

Komentar Pembaca

komentar