Wakil Ketua Umum PAN, Hanafi Rais. Foto: Ricardo/JPNN.Com
Wakil Ketua Umum PAN, Hanafi Rais.
Foto: Ricardo/JPNN.Com

batampos.co.id – Partai Amanat Nasiobal (PAN) menilai pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla belum mampu mewujudkan kesejahteraan umum dalam setahun ini. Penyebabnya adalah kebijakan pemerintah yang tak mampu menahan laju pelambatan pertumbuhan ekonomi dan krisis nilai tukar rupiah.

Menurut Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais, tingkat kemiskinan justru naik dari 27,8 juta jiwa pada akhir 2014 menjadi 28,6 juta‎ jiwa pada pertengahan 2015. “PAN menilai, 2015 adalah tahun yang hilang,” ‎ujarnya saat mengumumkan refleksi akhir tahun DPP PAN atas kinerja pemerintahan Jokowi-JK di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (29/12).

PAN juga mencatat adanya peningkatan angka pengangguran dari 7,24 juta pada 2014 menjadi 7,58 juta pada tahun ini. Penyebabnya adalah banyaknya perusahaan yang gulung tikar. “‎Hal ini harus menjadi fokus pemerintah di tahun berikutnya,” katanya.

Lebih lanjut Hanafi juga menyinggung refleksi PAN tentang kemiskinan dan pengangguran. Menurutnya, gejolak perekonomian global memang sangat berpengaruh pada meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Karenanya, PAN menyarankan agar pemerintah mengubah sustem ekonomi dengan strategi investasi dan industri. Harapannya agar ekonomi nasional tidak rapuh menghadapi gejolak eksternal.

‎Tak hanya itu, PAN juga menilai kebijakan fiskal 2015 sangat memprihatinkan. Sebab, capaian penerimaan pajak meleset dari target sehingga terjadi defisit APBN yang besar dan bakal berefek pada 2016.

Selain itu, defisit APBN yang terlalu besar juga akan menggerus kepercayaan pasar dan publik kepada tim ekonomi pemerintah. Karenanya PAN menganjurkan agar pemerintah berhati-hati menetapkan sasaran yang lebih realistis dalam APBN 2016.

“Kami tunggu evaluasi pemerintah terutama tim ekonomi bagaimana APBN 2016 dinilai di akhir tahun. Kami menunggu, yang paling krusial mendorong APBNP supaya lebih realistis, ” tuturnya.(dna/JPG)

Komentar Pembaca

komentar