Belakangan ini, istilah “bonus demografi” semakin menjadi bahan perbincangan yang hangat di Indonesia. Diskusi-diskusi mengenai bonus demografi tersebut juga semakin gencar dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya pihak pemerintah. Negara Indonesia memang akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020 -2035. Di tahun tersebut, Indonesia akan mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi dan dapat berubah dari negara berkembang menjadi negara maju.

Apa yang dimaksud dengan bonus demografi itu sendiri? Bonus demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya (BKKBN, 2013). Jadi, dapat diartikan bonus demografi adalah fase dimana jumlah penduduk usia produktif dan bekerja lebih banyak daripada usia non produktifnya.

Fase ini disebut bonus karena tidak terjadi terus menerus melainkan hanya sekali saja terjadi dalam beribu-ribu tahun. Hitungan ekonomisnya, ketika usia produktif mendominasi jumlah penduduk suatu negara, maka akan menjadikan rasio ketergantungannya (Depedency Ratio) menjadi rendah.

Rasio ketergantungan penduduk Indonesia pada tahun 2020 – 2035 diperkirakan berada di kisaran 0,4 – 0,5. Itu artinya 100 orang usia produktif hanya akan menanggung 40 – 50 penduduk usia non produktif. Kondisi ini tentu akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Menyikapi kondisi tersebut, beberapa pihak berpendapat bahwa tahun 2020 – 2035 adalah masa keemasan Indonesia. Pendapat ini memang ada benarnya jika ada persiapan yang matang dalam menyambut masa itu. Oleh sebab itu, bonus demografi harus dan disikapi lewat langkah-langkah yang konprehensif yang sudah harus dimulai dari sekarang.

Salah satu kota yang akan mendapat keuntungan besar dari adanya bonus demografi ini adalah Kota Batam. Mengapa demikian? Sebagai salah satu kota industri terbesar dengan jumlah penduduk sebanyak 1.034.280 jiwa (Disduk, 2015), Kota Batam mempunyai perkembangan yang sangat pesat di sektor ekonomi.

Inilah yang menjadi alasan banyaknya migrasi yang masuk ke Batam. Seperti yang dilansir dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam(2014), bahwasannya jumlah penduduk Kota Batam bertambah rata-rata 100.000 jiwa setiap tahunnya dengan 65 persen berasal dari pendatang dan 35 persennya dari kelahiran. Sehingga diproyeksikan 5 – 10 tahun kedepan, tepatnya ketika era bonus demografi, Batam akan memiliki banyak penduduk dengan usia produktif. Seperti yang dikatakan oleh Kepala BKKBN Kepri, Sugiyono(2014), “Untuk di Kepri khususnya Batam, ‘bonus’ demografi terjadi terus menerus bahkan akan lebih lama dibanding daerah lain. Karena yang datang ke Batam rata-rata usia produktif dan bekerja”.

Apabila ini dimanfaatkan dengan baik, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Kota Batam akan semakin meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk Kota Batam.

Kondisi tersebut, diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka panjang mengingat industri di Kota Batam terus tumbuh sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat dunia. Meski demikian, bukan berarti bonus demografi itu sendiri tidak memiliki dampak negatif.

Banyaknya usia muda yang kini mendominasi Batam bisa menjadi ‘bom waktu’ di kemudian hari. Pada waktunya nanti, pekerja-pekerja usia produktif tersebut akan mengalami pensiun massal. Dan pada saat itu terjadi, Kota Batam akan kehilangan banyak penduduk usia produktif nya yang bekerja. Maka dari itu, diperlukan berbagai penyuluhan lebih tentang bagaimana mempertahankan bonus demografi ini dan juga peningkatan program KB (Keluarga Berencana) agar keluarga-keluarga tersebut bisa memikirkan dengan matang ketika akan memiliki anak, sehingga regenerasi usia produktif bisa terus terjadi.

Selain itu, banyaknya lulusan SMA/sederajat di Kota Batam yang menjadi pengangguran juga dapat menyebabkan beban tanggungan yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif semakin meningkat, sehingga bukan hanya harus menanggung penduduk usia non produktif, tetapi mereka juga harus menanggung penduduk usia produktif yang tidak bekerja. Menurut data BPS (2014), jumlah pengangguran di Kota Batam adalah 35.735 jiwa. Ini mengalami peningkatan sebesar 11,5% dari tahun 2013, sedangkan seperti yang kita ketahui jumlah penduduk yang masuk ke Batam terus meningkat, sehingga hanya akan memperbanyak jumlah pengangguran di Batam. Maka dari itu, diperlukannya kebijakan Pemerintah untuk menanggulangi masalah ini berupa penyuluhan kepada remaja-remaja dan juga peningkatan skill dan kreativitas penduduk usia produktif, sehingga mereka bisa menciptakan inovasi-inovasi terbaru yang nantinya dapat dijadikan industri kreatif masyarakat yang dapat menambah lapangan pekerjaan juga.

Maka dari itu, dalam rangka menyukseskan bonus demografi di Kota Batam, diperlukannya usaha dari berbagai pihak, bukan hanya dari Pemerintah akan tetapi juga dari penduduk Kota Batam sendiri. Jumlah penduduk usia produktif yang besar di Kota Batam, apabila tidak diimbangi dengan peningkatan mutu sumber daya manusianya juga akan sia-sia.
Pembekalan tersebut diperlukan karena kompetisi kedepan dipastikan akan semakin sengit. Hal ini diperkuat lagi dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan berlangsung mulai tahun ini. Khusus untuk kota Batam, sudah saatnya Balai Latihan Kerja (BLK) difungsikan kembali oleh pemerintah agar para tenaga kerja dapat terbantu dalam mengasah keterampilannya.

Selain itu, diperlukannya juga pemerataan penduduk, agar penduduk-penduduk usia produktif yang bekerja tidak terpusat di satu daerah saja. Catatan terahir dan yang paling penting adalah bahwa semuanya itu harus dilakukan sesegera mungkin agar bonus demografi ini tidak hanya menjadi sebuah ilusi semata. ***

Nur-Sa'dah

Komentar Pembaca

komentar