airbatampos.co.id – Warga Desa Lidi, Kecamatan Siatan Tengah, mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih. Hingga kini mereka harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Desa Lidi yang baru setahun ini dimekarkan dari Desa Air Asuk yang memiliki jumlah penduduk sekitar 300 kepala keluarga, dengan jumlah rumah sekitar 121 unit. Masyarakat di Lidi hampir 80 persennya hidup menghandalkan pendapatan dari nelayan, sebab daratan yang mereka miliki keadaanya tandus dan tidak dapat untuk bercocok tanam. Maka dari itu di desa tersebut tidak dapat mencari sumber mata air bersih atau air yang dapat dikonsumsi.

“Kampung kami memang tidak ada sumber mata air pak,” kata Nirmala, 35, ibu rumah tangga saat menemui wartawan, Senin (28/12).

Menurutnya warga Desa Lidi sudah berusaha untuk mencari sumber mata air, akan tetapi belum kunjung jumpa hingga sekarang. Ada pula sebagian warga sudah menggali sumur baik itu secara manual maupun menggunakan mesin pengebor untuk mendapatkan air, tapi hasilnya tidak ada juga. Warga sudah pasrah dan tidak tahu usaha apalagi yang harus dibuat mereka lakukan untuk mendapatkan air bersih. “Sudah kesoi (lelah) kami mencari sumber mata air di desa kami, hasilnya belum ada hingga sekarang,” ucapnya.

Selama ini untuk mendapatkan air bersih warga Desa Lidi harus membeli ke desa lain. Saat mengambil air ke desa lain tidak pula boleh membeli banyak, sebab dibatasi oleh pihak desa tersebut. Air diangkut sendiri dan ada juga warga desa lain yang datang ke Desa Lidi menjual air tapi harganya sudah tinggi. Biasa air yang dibeli untuk ukuran drum plastik 100 liter harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20 ribu, jika warga mengambil airnya sendiri. Tetapi jika airnya diantar ke rumah harus membayar Rp 30 ribu per drum.

“Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti rumah tangga saya, tidak cukup satu drum sehari, sebab kami di rumah ada 5 orang untuk semua kebutuhan seperti mandi, mencuci dan lainnya lah pak,” keluhnya.

Ia menambahkan hal ini sudah pernah di sampaikan ke pihak pemerintah akan tetapi hingga kini belum juga ada solusi yang warga dapatkan. Hampir 8 tahun Kabupaten Kepulauan Anambas ini menjadi sebuah kabupaten tapi untuk mengatasi kebutuhan dasar hidup tidak dapat terpenuhi.”Hanya janji-janji saja pejabat itu pak, kami masih beli juga air ke desa lain,” kesalnya.

Sementara itu saat ditemui, anggota Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Anambas dari politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Jasril Jamal mengatakan pihaknya sudah berupaya memberi saran ke pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) agar dapat membuat perencanan terkait itu. Bahkan pada tahun 2015 anggaran untuk pembangunan air bersih sudah dianggarkan, tapi karena defisitnya anggaran daerah maka anggaran tersebut tidak dapat direalisasikan hingga kini.

Ia menambahkan tahun 2016 ini pemerintah harus membangun sumber air bersih, apakah dengan cara pengeboran maupun mempersiapkan air dengan cara mengadakan air bersih secara gratis. Pihaknya akan menggesa pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup masyarakat Anambas pada umunya.

“Jika pemerintah tidak mempunyai anggaran tahun 2016 saya yang akan mengeluarkan uang pribadi saya untuk mengadakan air bersih untuk masyarakat Desa Didi dan sekitar,” ucapnya. (sya/bpos)

Komentar Pembaca

komentar